Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kota Kita

Warga Kota dan Pemerintah Kota

Gambar
Beberapa hari yang lalu saya melintas di sekitar jalan Tanah Abang II, dan ada orang berkerumun di tepi jalan dan di tepi kali, jadi saya menyempatkan diri untuk berhenti sejenak. Apa yang terjadi saat itu menurut saya sangat menarik, dimana warga (atau mungkin tukang ojek yang mangkal di sekitar jalan itu) membersihkan sepotong bagian kali dan "menanam" ikan lele, mujair, dll. (bahkan ada yang cukup iseng melepas ikan hias). Yang jauh lebih menarik menurut saya adalah mereka "berkegiatan" bersama di area tersebut. Dan siapapun terbuka untuk ikut memancing di bangian sungai yang mereka "kelola", walau ada kontribusi yang tidak seberapa sekedar bisa membeli ikan lagi untuk di tanam. Setiap akhir pekan tempat ini ramai, bahkan saat ini mereka membersih potongan bangian kali yang lain untuk melakukan hal yang sama. Apa yang mereka lakukan menurut saya adalah memberi makna dari kehadiran sebuah ruang, dari sekedar "space" menjadi "place". D...

Tabungan Perumahan

Beberapa tahun belakangan ini, setelah menikah saya menetap di rumah susun Kebon Kacang. Dalam beberapa kesempatan saya turut berbagi peran dalam beberapa kegiatan yang diselenggarakan Perhimpunan Penghuni. Rumah Susun Kebon Kacang rasa-rasanya menjadi salah satu rumah susun pertama yang berdiri di Indonesia, bersama dengan rumah susun Tanah Abang dan Klender dibangun oleh Perumnas. Setelah 30 berdiri, di tahun 2012 Hak Guna Bangunan (HGB) Rusun akan berakhir. Rusun Kebon Kacang terdiri dari 8 blok bangunan yang menampung sekitar 530 unit rumah, dengan luas lahan sekitar 1,7 hektar. Penghuni Rusun kami sangat beragam. Dari tukang ojek, berjualan gado-gado hingga pegawai bank sentral, atau direktur bahkan ekspatriat ada di dalamnya. Tetapi kondisi Rusun kami sudah tidak seperti awal setelah dibangun. Lahan parkir sudah mencapai titik jenuh, sebanyak 150 kendaraan, ruang komunal dan area bermain anak yang tidak memadai dan sering kali berebut lahan dengan kendaraan yang akan parkir. Bebe...

Enjoy Jakarta

Pagi tadi selepas Subuh, Omar menarik tangan saya untuk pergi keluar rumah. Setelah selesai menyaksikan film lingkaran dan segitiganya, Omar tergerak keluar karena ingin melihat burung yang memang sudah bernyanyi semenjak pagi. Kami pun pergi melihat burung yang berkicau. Menyusuri pagi di Rumah Susun. Lalu saya menawarkan untuk melihat Air Mancur di Bunderan HI, yang bisa saya tempuh 5-10 menit berjalan kaki. Setibanya di pelataran sudut Plasa Indonesia, kami pun duduk menghadap Tugu Selamat Datang. Serasa kami disambut dengan ramah lengkap dengan rangkaian bunga. Omar selalu senang melihat air mancur ini. Selalu ketika kita melintas air mancur di atas kendaraan dia akan bersorak gembira. Tidak berselang satu menit, sambutan lainnya datang menjelang. Kali ini sambutannya agak tidak terduga. Petugas Satpol PP dengan seragam lengkap datang dengan maksud untuk mengusir saya dan Omar yang sedang duduk menikmati air mancur. Petugas: "Maaf pak tidak boleh duduk di sini!" Saya : ...

Jakarta 2014

Gambar
Beberapa waktu yang lalu saya diminta teman-teman di Universitas Pancasila untuk berbicara pada sebuah seminar tentang Rumah Susun. Secara kebetulan saya penghuni rumah susun di dekat Jalan Thamrin. Pada kesempatan tersebut saya tidak membicarakan rumah susun dan problematikanya. Tetapi saya mencoba berpikir terbalik, saya mencoba melihat rumah susun sebagai kebutuhan dan sebagai jawaban terhadap berbagai masalah yang terus merundung Jakarta. Saya memulaikan dengan membayangkan apa yang terjadi pada kota Jakarta dimasa depan. Atau setidaknya mencari perkiraan bagaimana wajah Jakarta 5 tahun mendatang. Maka saya coba mengetikkan kata kunci "jakarta 2014" pada mesin pencari google, dan hasilnya cukup mengejutkan saya. Google menampilkan hasil pencarian yang semuanya merujuk kepada "kiamat" mobilitas di Jakarta. Sejumlah kajian mengatakan bahwa pada tahun 2014 Jakarta akan macet total. Pada masa itu mungkin ketika akan terjebak kemacetan begitu kita keluar dari garasi ...