Postingan

Diskusi Maya

Hari ini saya merindukan suasana di awal tahun 2000an dimana diskursus melalui milis mulai marak sedang hari ini sudah bergeser ke dalam grup-grup kecil baik melalui whatsapp, bbm atau melalui media sosial. Diskusi melalui milis tidak dituntut untuk gegas merespon, boleh diendapkan dahulu topik atau isu yang sedang diperbincangkan, dipikirkan apa yang akan disampaikan sehingga ada kecenderungan diskursus berlansung bernas, walau agak lama dan panjang namun mendalam. Milis walaupun secara medium dilakukan secara maya, namun ada terbangun kesadaran bahwa kehadirannya ada di ruang publik sehingga secara alamiah berlaku pula norma dan etika bertatalaku di ruang publik maya. layaknya ruang publik maka isi kepalanya pun beragam, dan kecenderungan heterogen. Hari ini diskusi-diskusi tersebut sudah lebih banyak bergeser ke dalam ekosistem yang lebih kecil melalui aplikasi kirim pesan seperti whatsapp dan sejenisnya. Mulai ada kecenderungan homogen karena berkumpul atas dasar minat dan...

dirimu

Dirimu, Adalah alasan mengapa aku berada ditengah padang ke tengah gelanggang kau tarik diriku serta dari satu pertarungan menuju lainnya bergumul kita dengan masa Dalam masa, satu per satu kepingan kita rajut semakin lama semakin dalam dari satu petunjuk menuju lainnya semakin lama jenuh datang ya memang, kuteruskan pertarungan itu Di dalam pertarungan yang tiada nyata ini saja aku kehilangan mu Entah apa jadinya kalau kenyataan yang menghampiri selalu dapat kupasang paras berpura-pura walau hati tiada pernah bisa kukelabui

Ah Januari....

Ah Januari, Entah rasa apa yang harus kutanam padamu pada masa pertama, orang menghamburkan pesta, banyak yang tergelak tiada mengerti mengapa masa keduamu ada senyum bahagia, ketika cinta telah berbuah kali pertama dalam dekapan  mencari kehangatan dua pasang mata saling memandang kali pertama mencoba untuk berkenalan namun masa ketiga menjelang akhirmu  airmata kujadikan tinta dalam ingatan batinku akan kedua buah bola mata sayu yang dahulu pernah tajam memandang hidup akan kulit berkerut yang dahulu keras dan kasar tempat kami menyandarkan hidup akan kedua kaki renta yang dahulu kuat menopang akan sebuah jiwa besar yang dahulu kami berenang-renang di dalamnya pada masa ke empat, adalah kali pertama kupekakan tangis Ah Januari... kutulis engkau di bulan Juli

Tata Ruang Kota Islami

Setelah pelaksanaan Kongres Umat Islam, Februari lampau, sebuah email masuk ke alamat sekretariat IAI Jakarta, permohonan wawancara dalam menyikapi salah satu hasil kongres di Yogyakarta. Berikut email tersebut : Assalamualaikum wr wb Selamat sore Perkenalkan saya Muhammad Iqbal dari Harian  Republika . Melalui email ini saya ingin mengajukan wawancara singkat untuk menindaklanjuti hasil Kongres Umat Islam Indonesia (KUUI) VI di Yogyakarta yang secara resmi ditutup kemarin.  Salah satu rekomendasi yang dihasilkan kongres seputar penguatan peran sosial budaya umat Islam Indonesia yaitu KUUI mengusulkan perlu adanya revitalisasi arsitektur dan lanskap tata ruang islami.  Ketua Komisi C KUII Yunahar Ilyas mengatakan, arsitektur dan lanskap tata ruang di kota-kota besar jauh dari Islami.  Kondisi itu berbeda dengan zaman kesultanan Yogyakarta yang menempatkan masjid bersebelahan dengan keraton, pusat pemerintahan dan pasar.  Bagaimana IAI Jakarta me...

Menakar Masa Depan Profesi Arsitek di Indonesia

Entah apakah secara bersama kita sadari atau tidak, namun masa depan profesi Arsitek di Indonesia memasuki fase yang perlu kita waspadai (jikalau tidak ingin disebut mengkhawatirkan). Karena hingga saat ini Indonesia adalah satu-satunya negara di dalam lingkup ASEAN yang belum memiliki UU Arsitek. Indonesia pula menjadi satu-satunya negara di dunia dimana pendidikan arsitekturnya tidak sesuai dengan standar yang di tetapkan UIA. Pendidikan arsitektur di Indonesia seperti halnya pendidikan tinggi strata-1 lainnya dilakukan dalam waktu 4 tahun. Sedangkan UIA mensyaratkan pendidikan profesi arsitek dilakukan selama 5 tahun + 2 tahun pemagangan. Ketimpangan ini berakibat tidak diakuinya atau ketidaksetaraan lulusan jurusan arsitektur dalam negeri apabila hendak berkiprah di luar negeri, baik dalam rangka pendidikan lanjut atau dalam rangka praktek arsitektur. Satu-satunya pendidikan strata-1 yang berbeda adalah Jurusan Kedokteran. Dimana sebelum lulus, calon dokter harus melakukan...

Warga Kota dan Pemerintah Kota

Gambar
Beberapa hari yang lalu saya melintas di sekitar jalan Tanah Abang II, dan ada orang berkerumun di tepi jalan dan di tepi kali, jadi saya menyempatkan diri untuk berhenti sejenak. Apa yang terjadi saat itu menurut saya sangat menarik, dimana warga (atau mungkin tukang ojek yang mangkal di sekitar jalan itu) membersihkan sepotong bagian kali dan "menanam" ikan lele, mujair, dll. (bahkan ada yang cukup iseng melepas ikan hias). Yang jauh lebih menarik menurut saya adalah mereka "berkegiatan" bersama di area tersebut. Dan siapapun terbuka untuk ikut memancing di bangian sungai yang mereka "kelola", walau ada kontribusi yang tidak seberapa sekedar bisa membeli ikan lagi untuk di tanam. Setiap akhir pekan tempat ini ramai, bahkan saat ini mereka membersih potongan bangian kali yang lain untuk melakukan hal yang sama. Apa yang mereka lakukan menurut saya adalah memberi makna dari kehadiran sebuah ruang, dari sekedar "space" menjadi "place". D...

Karena KTP

Ini sekedar mengingatkan kita, bahwa Allah menitipkan hak orang lain dari rezeki yang kita terima. Berita serupa dapat dilihat di sini PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah. Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi. Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk beroba...