Entah apakah secara bersama kita sadari atau tidak, namun masa depan profesi Arsitek di Indonesia memasuki fase yang perlu kita waspadai (jikalau tidak ingin disebut mengkhawatirkan). Karena hingga saat ini Indonesia adalah satu-satunya negara di dalam lingkup ASEAN yang belum memiliki UU Arsitek. Indonesia pula menjadi satu-satunya negara di dunia dimana pendidikan arsitekturnya tidak sesuai dengan standar yang di tetapkan UIA. Pendidikan arsitektur di Indonesia seperti halnya pendidikan tinggi strata-1 lainnya dilakukan dalam waktu 4 tahun. Sedangkan UIA mensyaratkan pendidikan profesi arsitek dilakukan selama 5 tahun + 2 tahun pemagangan. Ketimpangan ini berakibat tidak diakuinya atau ketidaksetaraan lulusan jurusan arsitektur dalam negeri apabila hendak berkiprah di luar negeri, baik dalam rangka pendidikan lanjut atau dalam rangka praktek arsitektur. Satu-satunya pendidikan strata-1 yang berbeda adalah Jurusan Kedokteran. Dimana sebelum lulus, calon dokter harus melakukan...
Dirimu, Adalah alasan mengapa aku berada ditengah padang ke tengah gelanggang kau tarik diriku serta dari satu pertarungan menuju lainnya bergumul kita dengan masa Dalam masa, satu per satu kepingan kita rajut semakin lama semakin dalam dari satu petunjuk menuju lainnya semakin lama jenuh datang ya memang, kuteruskan pertarungan itu Di dalam pertarungan yang tiada nyata ini saja aku kehilangan mu Entah apa jadinya kalau kenyataan yang menghampiri selalu dapat kupasang paras berpura-pura walau hati tiada pernah bisa kukelabui
Kemarin pagi saya singgah di Medan untuk menghadiri sebuah pertemuan. Saya berangkat dengan penerbangan pertama sekali sehingga pagi saya sudah tiba di Kualanamu. Dari bandara saya meneruskan perjalanan menuju kota Medan menggunakan kereta api, dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam. Setelah tiba di stasiun di dekat lapangan Merdeka, baru saya mencari tahu lokasi pertemuan. Sesuai petunjuk peta sebenarnya tidak terlampau jauh, kurang lebih satu kilometer, dan rasanya bisa saya tempuh kurang dari 10 menit. Ada memang yang menawarkan tumpangan, taksi dan becak motor juga tersedia. Tetapi karena saya semenjak kecil dibiasakan berjalan kaki, ya sudah, jalan saja. Orang Medan agaknya tidak terbiasa berjalan kaki. Sekedar pengamatan pandangan mata saja. Jalan-jalan ramai dengan kendaraan bermotor, sekalipun hingga macet, tetapi pejalan kaki terlihat sedikit sekali. Hampir di banyak tempat jalur pedestrpede dijadikan lahan parkir kendaraan bermotor, tidak sedikit yang memagarnya. ...
Komentar