Postingan

Apa yang salah dengan negeri kita?

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya, hanya saya ingin memberi tekanan pada hal yang berbeda. Teringat sebuah judul sayembara yang baru saja di lansir di milis arsitektur yang cukup sibuk di Indonesia. Kata kuncinya adalah gotong royong. Ingatan saya juga sempat melayang-layang jauh agak ke belakang, ketika masih duduk di bangku kuliah. Dahulu saya sempat dijelaskan tentang bagaimana sebagian kelompok masyrakat kita membangun sebuah rumah. Ada sebuah semangat yang luar biasa, sehingga setipa individu di dalam kelompok tersebut saling membantu, bahu-membahu membangun rumah bagi saudaranya yang lain. Seringkali bantuan itu tidak hanya jerih payah tenaga tetapi juga materi. Kata kuncinya adalah gotong royong. Pagi tadi saya pergi mengunjungi lokasi rumah yang hendak kita bangun di sebuah kompleks perumahan ternama di selatan Jakarta. Setibanya kami di sana sudah ramai khalayak berkumpul. Semuanya datang dengan kendaraan roda dua. Kontras, pagi itu mereka berkumpul bu...

Aman tetapi Tidak Aman

Beberapa hari yang lalu, saya pergi membantu klien untuk mengurus izin bangunan di kompleks perumahan pengembang ternama di selatan Jakarta. Setibanya di gedung pelayanan konsumen, kita mengutarakan niat untuk mengurus izin. Hingga mengalir perbincangan dan pada akhirnya saya menanyakan besaran biaya yang menjadi beban kami. Bapak yang melayani kita memberikan selembar kertas yang berisi informasi besaran biaya yang dikenakan kepada konsumen. Besaran sempat membuat saya terkejut, karena cukup besar, setidaknya 5 lebih besar dibanding dengan retribusi resmi yang berlaku di Jakarta. Lalu kami juga disyaratkan untuk menyerahkan uang jaminan pemiharaan lingkungan. Sebenarnya bukan jumlah yang membuat saya terkejut, tetapi betapa tidak seimbangnya antara biaya yang dibebankan dengan layanan yang diterima. Sekalipun kami membayar uang jaminan pemilaharan lingkungan, uang keamanan "resmi", pada kenyataannya ada saja pihak lain yang meminta "uang keamanan" versi sendiri yan...

Rumah Pori Batam

Gambar
Setahun yang lalu saya diminta untuk merancang sebuah rumah tinggal milik seorang rekan yang baru saja berkeluarga di Batam. Maka mulailah saya membuat coretan sekedarnya hingga akhirnya saya berkunjung ke lahan yang hendak dibangun. Rumah ini berdiri pada sebuah kompleks perumahan di Sei Panas, Batam, sehingga rumah rekan saya ini sebelumnya serupa bentuknya dengan tetangga kiri, kanan dan depannya. Denah dasarnya kami tetap pertahankan agar dapat menekan biaya pembangunan. Untuk mengatasi penghawaan dalam ruang maka saya mengusulkan dinding berpori, sehingga ketergantungan pada AC dapat ditekan sebisa mungkin, dengan demikian penggunaan listrik juga dapat ditekan. Dinding berpori ini juga berguna untuk membentuk fasade bangunan, sebagai medium bernafas bangunan, dan juga untuk keamanan rumah ini sendiri. Setelah dinding pori ini baru di letakkan pintu dan jendela, sehingga hingga malam hari sekalipun pintu dan jendela dapat dibuka, tanpa harus takut pihak yang tidak diinginkan untuk ...

Ketika Bosan...

Gambar
Apa yang dilakukan ketika sedang bosan? Kalau saya memilih olahraga pergelangan tangan, berikut hasilnya

Munas IAI XII Makassar

Gambar
Ada yang "panas" di Munas IAI kali ini. Setelah Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Nasional sebelumnya diterima, berturut-turut Ketua Dewan Kehormatan (demisioner), pak Michael Sumarijanto, Ketua Umum dan Sekjen (demisioner) "dibakar" di depan peserta Munas. Tentu bukan dalam konotasi yang buruk. Tetapi beliau bertiga secara berurutan diminta untuk terlibat dalam sebuah tarian khas Sulawesi Selatan yang menggunakan api. Sementara itu tepat di ruangan sebelah, persiapan untuk menghitung suara yang masuk untuk memilih Ketua Umum IAI periode berikutnya sedang disiapkan. Penghitungan suara sepertinya juga tidak mudah, dimulai dari polemik 1 atau 2 putaran perhitungan suara hingga penghitungan suara sendiri yang memakan waktu hingga lepas tengah malam. Tepatnya hingga jam 2 dinihari. Satu hal yang sangat berkesan bagi saya adalah anggota IAI senior, yang tidak lagi bisa dikatakan muda tetap hadir di ruangan mengawal perhitungan suara hingga selesai. Pak Suwondo, Pak Han...

Bandara Baru

Gambar
Sekitar pertenahan bulan Juni yang lalu, ketika saya berkesempatan pulang ke Makassar, sekaligus untuk menghadiri acara Lomba Keterampilan Siswa waktu lalu. Di dalam perjalanan dari dan menuju Bandar Udara, saya bertanya-tanya akan hadirnya gundukan-gundukan bangunan baru di dekta bandara. Malam kemarin setelah mendarat dari Denpasar, akhirnya pertanyaan itu terjawab. Terminal baru yang menghubungkan Makassar dengan kota lain telah hadir. Hadir lebih baik sepertinya dibanding bangunan bandara yang lama, yang memang sudah dapat menampung kegiatan di bandara tersebut. Sempat saya bertanya-tanya kepada beberapa rekan, dan seperti rekan-rekan di Atelier 6 yang patut di beri penghargaan untuk karya yang satu ini.

Seandainya...

Gambar
Saat ini saya sedang menanti pesawat udara yang akan membawa saya ke Makassar, ke perhelatan Munas IAI. Penerbangan saya yang tertunda, sehingga saya dapat menulis sedikit di buku catatan. Sepertinya kondisi penerbangan di tanah air sudah jauh berbeda dengan 5 tahun yang lalu. Bepergian dengan pesawat udara menjadi lazim bagi semua kalangan. Harga yang makin terjangkau dan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan sepertinya menjadi sebab mengapa khalayak marak mengguna moda transportasi yang satu ini. Juga menjadi sebab maraknya maskapai penerbangan di tanah air. Teringat oleh sebuah berita kurang lebih setahun yang lalu ketika sebuah maskapai penerbangan swasta nasional membeli hingga ratusan unit pesawat baru untuk melayani puluhan jalur penerbangan dalam dan luar negeri. Teringat pula saya akan mimpi seorang anak negeri yang saya kagumi, BJ Habibie. Bahwa kita bepergian di negeri sendiri dengan kendaraan yang kita buat sendiri. Sepertinya beliau dahulu sudah dapat mempre...