Postingan

IGNORANCE IS A CRIME....

Jumat malam kemarin saya hadir menyimak presentasi Budi Lim yang berbagi kisah tentang etika konservasi. Ada sebuah kalimat yang terngiang hingga saat ini di telinga saya. Ignorance is a crime. Pengabaian adalah sebuah kejahatan. Hal ini bukan tanpa sebab beliau sampaikan, berkaca dari puluhan (bahkan mungkin ratusan) aset bangsa berupa bangunan tua di Jakarta Kota diabaikan terbelengkalai, bahkan beberapa diantaranya sudah tidak utuh lagi penampilannya. Teringat saya pada kampung halaman. Potret yang serupa berulang disini. Begitu banyak bangunan yang indah, dibiarkan lapuk menanti saatnya runtuh. Beberapa yang telah runtuh digantikan oleh bangunan "saat kini" yang "bernilai" jauh lebih murah ketimbang bangunan yang dahulu diwariskan oleh orang tua kita. Seperti saya sepakat, Pengabaian adalah sebuah kejahatan. Pengabaian adalah asal mula kecarut-marutan negeri ini. Bukan hanya bangunan tua yang bernilai yang diabaikan, tetapi banyak sekali nilai yang luhur yang me...

Pajak

Beberapa hari lalu saya menulis pandangan saya pada halaman jejaring sosial di dunia maya. Sebenar tulisan itu hanya sebuah komentar singkat mengenai musibah yang nampak masih rajin berkunjung ke rumah kita. Hanya saja musibah terakhir di Situ Gintung sepertinya datang atas "undangan" kita. Mungkin saya tidak dapat menyembunyikan kekecewaan saya atas berbagai kejadian belakangan ini. Ingatan saya melayang ke masa setahun silam. Ingatan yang sama yang membuat saya menulis di blog ini. Seorang ibu yang sedang mengandung beserta dua anaknya meninggal dunia karena sudah tidak kuasa menahan lapar. Sedang lurah setempat menolak membantu hanya karena secarik kertas bernama KTP yang berhasil mengalahkan kemanusiaan. Seingat saya ibu itu adalah juga seorang Indonesia. Sekitar sebulan lalu seorang pengendara motor juga meninggal dunia karena motor yang dikendarai terperosok ke dalam lubang ketika sedang melintas di jalan protokol Ibukota. Sebelumnya ada ruas jalan yang sengaja di aspal...

Apa yang salah dengan negeri kita?

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya, hanya saya ingin memberi tekanan pada hal yang berbeda. Teringat sebuah judul sayembara yang baru saja di lansir di milis arsitektur yang cukup sibuk di Indonesia. Kata kuncinya adalah gotong royong. Ingatan saya juga sempat melayang-layang jauh agak ke belakang, ketika masih duduk di bangku kuliah. Dahulu saya sempat dijelaskan tentang bagaimana sebagian kelompok masyrakat kita membangun sebuah rumah. Ada sebuah semangat yang luar biasa, sehingga setipa individu di dalam kelompok tersebut saling membantu, bahu-membahu membangun rumah bagi saudaranya yang lain. Seringkali bantuan itu tidak hanya jerih payah tenaga tetapi juga materi. Kata kuncinya adalah gotong royong. Pagi tadi saya pergi mengunjungi lokasi rumah yang hendak kita bangun di sebuah kompleks perumahan ternama di selatan Jakarta. Setibanya kami di sana sudah ramai khalayak berkumpul. Semuanya datang dengan kendaraan roda dua. Kontras, pagi itu mereka berkumpul bu...

Aman tetapi Tidak Aman

Beberapa hari yang lalu, saya pergi membantu klien untuk mengurus izin bangunan di kompleks perumahan pengembang ternama di selatan Jakarta. Setibanya di gedung pelayanan konsumen, kita mengutarakan niat untuk mengurus izin. Hingga mengalir perbincangan dan pada akhirnya saya menanyakan besaran biaya yang menjadi beban kami. Bapak yang melayani kita memberikan selembar kertas yang berisi informasi besaran biaya yang dikenakan kepada konsumen. Besaran sempat membuat saya terkejut, karena cukup besar, setidaknya 5 lebih besar dibanding dengan retribusi resmi yang berlaku di Jakarta. Lalu kami juga disyaratkan untuk menyerahkan uang jaminan pemiharaan lingkungan. Sebenarnya bukan jumlah yang membuat saya terkejut, tetapi betapa tidak seimbangnya antara biaya yang dibebankan dengan layanan yang diterima. Sekalipun kami membayar uang jaminan pemilaharan lingkungan, uang keamanan "resmi", pada kenyataannya ada saja pihak lain yang meminta "uang keamanan" versi sendiri yan...

Rumah Pori Batam

Gambar
Setahun yang lalu saya diminta untuk merancang sebuah rumah tinggal milik seorang rekan yang baru saja berkeluarga di Batam. Maka mulailah saya membuat coretan sekedarnya hingga akhirnya saya berkunjung ke lahan yang hendak dibangun. Rumah ini berdiri pada sebuah kompleks perumahan di Sei Panas, Batam, sehingga rumah rekan saya ini sebelumnya serupa bentuknya dengan tetangga kiri, kanan dan depannya. Denah dasarnya kami tetap pertahankan agar dapat menekan biaya pembangunan. Untuk mengatasi penghawaan dalam ruang maka saya mengusulkan dinding berpori, sehingga ketergantungan pada AC dapat ditekan sebisa mungkin, dengan demikian penggunaan listrik juga dapat ditekan. Dinding berpori ini juga berguna untuk membentuk fasade bangunan, sebagai medium bernafas bangunan, dan juga untuk keamanan rumah ini sendiri. Setelah dinding pori ini baru di letakkan pintu dan jendela, sehingga hingga malam hari sekalipun pintu dan jendela dapat dibuka, tanpa harus takut pihak yang tidak diinginkan untuk ...

Ketika Bosan...

Gambar
Apa yang dilakukan ketika sedang bosan? Kalau saya memilih olahraga pergelangan tangan, berikut hasilnya

Munas IAI XII Makassar

Gambar
Ada yang "panas" di Munas IAI kali ini. Setelah Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Nasional sebelumnya diterima, berturut-turut Ketua Dewan Kehormatan (demisioner), pak Michael Sumarijanto, Ketua Umum dan Sekjen (demisioner) "dibakar" di depan peserta Munas. Tentu bukan dalam konotasi yang buruk. Tetapi beliau bertiga secara berurutan diminta untuk terlibat dalam sebuah tarian khas Sulawesi Selatan yang menggunakan api. Sementara itu tepat di ruangan sebelah, persiapan untuk menghitung suara yang masuk untuk memilih Ketua Umum IAI periode berikutnya sedang disiapkan. Penghitungan suara sepertinya juga tidak mudah, dimulai dari polemik 1 atau 2 putaran perhitungan suara hingga penghitungan suara sendiri yang memakan waktu hingga lepas tengah malam. Tepatnya hingga jam 2 dinihari. Satu hal yang sangat berkesan bagi saya adalah anggota IAI senior, yang tidak lagi bisa dikatakan muda tetap hadir di ruangan mengawal perhitungan suara hingga selesai. Pak Suwondo, Pak Han...